Bangkaterkini.id, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, berkolaborasi dengan Danantara, telah menuntaskan pembangunan 600 unit Hunian Sementara (Huntara) di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Penyerahan ratusan unit Huntara ini kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menandai rampungnya proyek sesuai target yang ditetapkan, memberikan angin segar bagi warga terdampak bencana.
Acara serah terima penting ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Managing Director Hubungan Antarlembaga BPI Danantara Rohan Hafas, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi, serta jajaran direksi Waskita Karya, yaitu Direktur Utama Muhammad Hanugroho dan Direktur Operasi I Ari Asmoko.

Rohan Hafas dari Danantara menegaskan bahwa penyerahan Huntara ini adalah wujud komitmen Danantara Indonesia dalam menyediakan tempat tinggal sementara yang layak dan aman. Menurutnya, hunian ini krusial untuk memulihkan layanan dasar dan membantu warga terdampak kembali menata kehidupan. "Pemulihan bukan hanya soal fisik, tapi bagaimana hunian ini bisa menjadi ruang bagi keluarga untuk kembali beraktivitas normal," ungkap Rohan dalam keterangan pers.
Sinergi antara Danantara dan BUMN Karya seperti Waskita Karya ini menuai pujian dari pemerintah. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya secara khusus mengapresiasi kolaborasi ini sebagai model yang patut dicontoh dan menginspirasi daerah lain dalam penanganan pasca-bencana.
Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kecepatan pembangunan Huntara. Ia menyebutkan bahwa ini adalah kali pertama mereka menerima bantuan hunian pasca-bencana. "Distribusi akan dilakukan bertahap, dimulai dengan 100 unit, untuk memastikan proses adaptasi berjalan lancar," jelas Armia. Ratusan keluarga dari Desa Sukajadi dilaporkan siap menempati unit-unit yang telah rampung pada tahap awal, dengan daftar nama yang sudah terpasang di setiap pintu Huntara.
Muhammad Hanugroho, Direktur Utama Waskita Karya, menambahkan bahwa proyek Huntara di Aceh Tamiang adalah bukti nyata sinergi antara Danantara, pemerintah, dan BUMN Karya dalam upaya pemulihan pasca-bencana. Pembangunan dipercepat agar masyarakat dapat segera memanfaatkannya. "Kami bekerja 24 jam tanpa henti untuk mempercepat pemulihan Aceh. Keberhasilan Waskita menyelesaikan puluhan unit dalam enam hari menunjukkan komitmen kami sebagai garda terdepan penanganan bencana," tegas Hanugroho.
Selain unit hunian berukuran 4,5×4,5 meter, Waskita juga melengkapi kawasan Huntara dengan berbagai fasilitas penunjang. Ini meliputi unit Mandi Cuci Kakus (MCK) dan Sistem Pengolahan Air Limbah (STP), musholla berukuran 9×13,5 meter beserta tempat wudu seluas 6,6×13 meter, serta dapur umum berukuran 8×19 meter. Infrastruktur pendukung seperti bangunan toren, drainase precast, serta sistem Mekanikal, Elektrikal, dan Plumbing (MEP) juga telah disiapkan.
"Meskipun bersifat sementara, Waskita memastikan standar kelayakan dan kualitas bangunan tetap terjaga. Huntara dirancang sebagai hunian darurat yang aman, kokoh, dan dilengkapi utilitas dasar yang berfungsi optimal. Kami berharap warga dapat merasa nyaman dan segera kembali beraktivitas normal," jelas Hanugroho.
Waskita juga membangun jalan pedestrian dan akses di area Huntara untuk menjamin kelancaran konektivitas warga dan distribusi logistik. "Waskita Karya berkomitmen penuh mengawal pemulihan di wilayah terdampak bencana, khususnya Aceh Tamiang, melalui penguatan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat, daerah, serta seluruh pemangku kepentingan," tambahnya.
Selain Aceh Tamiang, Waskita saat ini juga tengah menggarap Huntara di Aceh Utara, meliputi Simpang Tiga, Tanjong Dalam Selatan, dan Leubok Meuku, dengan target 314 unit hunian. "Kami terus berdoa agar seluruh warga terdampak bencana dapat segera bangkit dan menata kembali kehidupannya. Duka ini adalah duka kita bersama, seluruh masyarakat Indonesia," pungkas Hanugroho.
