Bangkaterkini.id, Kanselir Jerman Friedrich Merz kembali menegaskan bahwa hari-hari kekuasaan rezim Iran tinggal menghitung waktu. Pernyataan ini disampaikan Merz di tengah serangkaian ancaman serangan militer yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyusul penindakan keras terhadap para demonstran di Iran. Merz menyampaikan pandangannya dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan pada Rabu (28/1) waktu setempat.
"Rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan teror terhadap penduduknya sendiri: hari-harinya sudah terhitung," kata Merz. Ia menambahkan bahwa rezim tersebut mungkin hanya bertahan "beberapa minggu lagi" dan sama sekali tidak memiliki legitimasi untuk memerintah negara.

Kanselir Jerman tersebut menyoroti laporan ribuan korban tewas selama gelombang demonstrasi anti-pemerintah baru-baru ini sebagai bukti nyata bahwa rezim mullah hanya mampu mempertahankan kekuasaan melalui teror semata. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS, sebuah kelompok hak asasi manusia, telah memverifikasi lebih dari 6.200 kematian sejak akhir Desember lalu. Para aktivis memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, mengingat pemadaman internet yang terus-menerus mempersulit upaya konfirmasi informasi.
Merz turut menyuarakan dukungan terhadap inisiatif Italia yang meminta Uni Eropa untuk menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. "Saya sangat menyesal bahwa masih ada satu atau dua negara di Uni Eropa yang belum siap untuk mendukung penetapan tersebut," ungkapnya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (28/1) mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, menyatakan bahwa waktu hampir habis bagi negara itu untuk menghindari intervensi militer AS. Peringatan ini muncul setelah Teheran menolak membuka pintu negosiasi di tengah meningkatnya ketegangan. Ketegangan juga masih dipicu oleh dampak perang 12 hari pada Juni lalu antara Iran dan Israel, yang didukung dan diikuti oleh AS.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengesampingkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran, menyusul penindakan brutal terhadap gelombang protes bulan ini. Merujuk pada serangan Amerika terhadap target nuklir Iran selama perang Juni yang menurutnya mengakibatkan "kehancuran besar Iran", Trump menambahkan, "Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi." Ia mendesak Iran untuk segera "Datang ke Meja Perundingan" dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata—tanpa senjata nuklir—yang baik untuk semua pihak. "Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!" tegas Trump.
