Bangkaterkini.id, Surabaya kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Kota Pahlawan ini berhasil menjadi salah satu dari 24 kota pemenang dalam ajang The Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge, sebuah kompetisi global yang mendorong inovasi pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Atas pencapaian ini, Surabaya berhak mengamankan pendanaan senilai USD 1 juta.
Pencapaian ini, menurut Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam keterangannya baru-baru ini, menjadi momentum krusial bagi Kota Pahlawan untuk tidak hanya memperkuat layanan dasar, tetapi juga menghadirkan solusi inovatif yang berkelanjutan dan berdampak luas. Surabaya memenangkan kompetisi ini berkat gagasan inovatifnya dalam memperluas penggunaan popok dan pembalut pakai ulang yang diproduksi secara lokal.

"Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya harus memberi teladan," ujar Eri Cahyadi. "Kami memperluas penggunaan popok dan pembalut pakai ulang produksi lokal untuk memperkuat ekonomi sirkular dan memberdayakan perempuan serta keluarga. Bersama warga, tenaga kesehatan, rumah sakit, sekolah dan universitas, ritel, organisasi nirlaba, dan mitra sektor swasta, kami mengurangi sampah popok dan pembalut sekali pakai yang berbahaya untuk melindungi Sungai Brantas dan lingkungan, menciptakan pekerjaan yang bermartabat, serta memastikan masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak kita."
Sebagai kota pemenang, Surabaya tidak hanya akan menerima pendanaan sebesar USD 1 juta, tetapi juga dukungan operasional serta tambahan pembiayaan bagi staf khusus. Dana ini akan digunakan untuk memperluas inovasi yang telah diuji coba. Program ini secara aktif mendorong rumah tangga dan berbagai institusi untuk beralih menggunakan produk pakai ulang produksi lokal sebagai alternatif popok dan pembalut sekali pakai. Langkah ini diharapkan mampu meminimalisir pencemaran sampah plastik ke sungai dan lingkungan, sekaligus memperkuat ekonomi sirkular dan menciptakan peluang kerja di tingkat komunitas.
Michael R. Bloomberg, Pendiri Bloomberg Philanthropies sekaligus mantan Wali Kota New York, mengungkapkan bahwa 24 kota pemenang berasal dari 20 negara dan melayani lebih dari 35 juta penduduk. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota yang paling efektif adalah yang berani, kreatif, dan proaktif dalam mencari solusi serta memenuhi kebutuhan warganya. "Mayors Challenge kami luncurkan untuk membantu lebih banyak kota berhasil. Kami menantikan untuk mendukung 24 pemenang tahun ini dalam mewujudkan proyek inovatif mereka dan melihat ide-ide ini menyebar ke kota-kota lain di seluruh dunia," jelasnya.
The Mayors Challenge 2025-2026 sendiri diluncurkan pada Oktober 2024 di forum Bloomberg CityLab, Mexico City. Program ini menarik perhatian lebih dari 630 kota dari berbagai penjuru dunia yang mendaftarkan diri. Dari ratusan pendaftar tersebut, diseleksi 50 kota finalis yang kemudian mengembangkan prototipe inovasi. Surabaya, sebagai salah satu finalis, turut mengikuti Ideas Camp yang diselenggarakan Bloomberg Philanthropies di Bogotá pada Juli 2025. Forum tersebut menjadi wadah kolaborasi bagi para finalis untuk mematangkan konsep inovasi mereka bersama para ahli, sebelum melangkah ke tahap implementasi yang lebih luas. Sebagai finalis, Surabaya juga menerima hibah awal sebesar USD 50.000 disertai pendampingan teknis untuk menguji dan mematangkan gagasan di tingkat lokal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, menjelaskan bahwa dukungan pendanaan ini akan mengakselerasi perluasan implementasi program ke berbagai kampung, khususnya yang terintegrasi dengan Program Kampung Pancasila. Melalui perluasan ini, edukasi masyarakat akan terus diperkuat guna meningkatkan pemahaman mengenai manfaat kesehatan, lingkungan, dan ekonomi dari penggunaan produk pakai ulang.
Pelaksanaan program ini dilakukan secara kolaboratif bersama tenaga kesehatan, rumah sakit, ritel, organisasi nirlaba, serta mitra sektor swasta untuk mendampingi keluarga beralih ke produk pakai ulang produksi lokal. Selain mendorong perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan, program ini juga mencakup pelatihan bagi produsen berbasis komunitas. Dengan demikian, mereka dapat menciptakan lapangan kerja yang layak, memperkuat roda ekonomi sirkular Surabaya, sekaligus menjaga kelestarian Sungai Brantas dan menjamin kesehatan generasi mendatang.
"Inisiatif ini membantu Surabaya mengurangi limbah berbahaya, melindungi Sungai Brantas, dan menekan beban TPA sekaligus menciptakan pekerjaan hijau bagi masyarakat. Program ini membuktikan bahwa perlindungan lingkungan dan pemberdayaan komunitas dapat berjalan seiring," kata Dedik.
Dedik memaparkan, hasil uji coba program di Surabaya menunjukkan dampak yang terukur dan sangat signifikan. Penggunaan popok sekali pakai pada keluarga peserta menurun drastis hingga 80 persen. Angka kasus ruam popok dan laporan infeksi saluran kemih (ISK) juga tercatat menurun tajam. Lebih lanjut, pembuangan popok ke sungai berhasil dihentikan dengan tingkat adopsi mencapai 99 persen dari 300 keluarga peserta. Dalam satu bulan, uji coba tersebut berhasil mencegah penumpukan lebih dari tujuh ton sampah popok, meskipun cakupannya masih sekitar 0,2 persen dari total bayi di Surabaya.
"Capaian ini menjadi bukti bahwa perubahan perilaku masyarakat dapat dibangun melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif. Ke depan, praktik inovasi ini akan terus kami perluas agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat sekaligus memperkuat perlindungan lingkungan," pungkas Dedik.
