Bangkaterkini.id, Sedikitnya lima pesawat militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami kerusakan setelah menjadi sasaran serangan Iran di kompleks pangkalan udara Pangeran Sultan, Arab Saudi. Pihak militer Washington memastikan bahwa pesawat-pesawat tersebut tidak hancur total, melainkan hanya mengalami kerusakan parsial.
Insiden ini, seperti dilansir dari laporan Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip dua pejabat AS anonim, terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pentagon sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan WSJ tersebut. Menurut WSJ, kelima pesawat yang rusak adalah jenis pesawat pengisian bahan bakar udara milik Angkatan Udara AS.

Pesawat-pesawat tersebut terkena serangan saat sedang berada di darat, tepatnya di pangkalan udara Pangeran Sultan yang berlokasi di area al-Kharj, Arab Saudi. Pangkalan ini dikenal sebagai lokasi strategis tempat puluhan jet tempur AS ditempatkan. Sumber pejabat AS yang dikutip WSJ menyebutkan bahwa serangan rudal Iran menargetkan pangkalan militer Saudi dalam beberapa hari terakhir.
Meskipun mengalami kerusakan, laporan WSJ menegaskan bahwa kelima pesawat tersebut tidak hancur dan saat ini sedang dalam proses perbaikan. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat serangan ini.
Peristiwa di Arab Saudi ini terjadi hanya beberapa hari setelah insiden jatuhnya pesawat militer AS jenis pengisian bahan bakar KC-135 di wilayah Irak. Kecelakaan tersebut menewaskan sedikitnya enam personel militer AS. Komando Pusat AS (CENTCOM), yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah, telah mengonfirmasi bahwa jatuhnya pesawat KC-135 bukan disebabkan oleh tembakan musuh atau friendly fire. Penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan mendalam oleh militer AS.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Saudi dalam laporan terbarunya menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan setidaknya delapan drone yang terdeteksi di wilayah udaranya sejak Sabtu pagi waktu setempat.
Iran diketahui melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS, termasuk Arab Saudi. Serangan ini merupakan balasan atas gempuran AS dan Israel yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.
