Bangkaterkini.id, Militer Israel tak henti melancarkan serangan udara dan darat ke berbagai wilayah di Lebanon serta Jalur Gaza, Palestina. Akibat agresi yang terus berlanjut ini, sejumlah korban jiwa berjatuhan di kedua wilayah tersebut, memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Di Jalur Gaza, laporan terkini menyebutkan sedikitnya 10 orang tewas akibat serangan Israel. Salah satu insiden paling memilukan terjadi di kamp Jawazat, sebuah lokasi pengungsian, di mana serangan pesawat nirawak (drone) merenggut nyawa delapan orang dan melukai 15 lainnya. Dinas pertahanan sipil Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas, mengonfirmasi data ini, bersamaan dengan laporan delapan jenazah yang diterima Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.

Di bagian selatan Gaza, Muhannad Othman Farwana, seorang pria berusia 25 tahun, menjadi korban tewas akibat serangan ke sebuah tenda pada pagi hari. Jenazahnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis. Militer Israel mengklaim Farwana adalah seorang komandan sel Hamas dan tewas dalam "serangan presisi." Namun, ironisnya, sepupu Farwana, Mohammed Farwana, mengungkapkan kepada AFP bahwa seluruh keluarga sedang bersiap merayakan pernikahan Muhannad pada hari itu. "Sekarang, kami justru menghadiri pemakamannya," ujarnya pilu. Malam harinya, seorang pria berusia 37 tahun juga dilaporkan tewas di tenggara Kota Gaza akibat serangan Israel.
Konflik di Gaza ini dipicu oleh serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat setidaknya 951 warga Palestina tewas. Data ini, yang berada di bawah otoritas Hamas, dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sementara itu, militer Israel melaporkan lima personelnya tewas dalam periode yang sama. Kedua belah pihak, Israel dan Hamas, saling menuduh melakukan pelanggaran gencatan senjata yang hampir terjadi setiap hari. Keterbatasan akses dan pembatasan media di Gaza menyulitkan verifikasi independen atas jumlah korban dan peliputan kekerasan.
Tak hanya Gaza, Lebanon juga terus terseret dalam pusaran konflik Timur Tengah, terutama karena keterlibatan Hizbullah yang didukung Iran. Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan dua warga sipil tewas dan 22 lainnya terluka, termasuk tiga anak dan seorang wanita, akibat serangan Israel di kota Saksakiyeh, distrik Sidon, pada Sabtu pagi.
Sebelumnya, militer Lebanon melaporkan tiga tentaranya tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam sebuah kendaraan militer di wilayah selatan. Militer Lebanon menyebut insiden ini sebagai "serangan biadab." Namun, militer Israel berdalih bahwa kendaraan yang menjadi target "bergerak secara mencurigakan" di "zona pertempuran aktif yang telah dievakuasi." Mereka menegaskan operasi tersebut "melawan organisasi teroris Hizbullah, bukan melawan tentara Lebanon," dan menyatakan sedang meninjau insiden tersebut.
Serangan mematikan ini terjadi meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah seharusnya berlaku sejak 17 April lalu. Namun, gencatan senjata tersebut tidak dihormati secara penuh. Kedua belah pihak sering saling tuding melanggar kesepakatan, membenarkan serangan mereka sebagai respons atas dugaan pelanggaran pihak lain. Upaya diplomatik untuk gencatan senjata bersyarat lebih lanjut juga telah diumumkan oleh utusan Lebanon dan Israel di Washington DC, namun tampaknya belum mampu meredakan ketegangan di lapangan.

































