Bangkaterkini.id, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahannya terhadap Teheran, menuding Iran sebagai pihak yang tidak terhormat setelah rincian kesepakatan yang disebutnya "tidak akurat" bocor ke publik. Kemarahan ini muncul sehari setelah Trump sendiri menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran hampir rampung.
Melalui platform Truth Social pada Jumat, Trump dengan tegas membantah kebenaran informasi yang beredar. "Rincian yang dibocorkan Iran ke media berita palsu tidak ada hubungannya dengan rincian yang telah disepakati secara tertulis," tulis Trump. Ia melanjutkan, "Apa yang mereka katakan, termasuk pernyataan lemah dan menyedihkan mereka tentang adanya kesepakatan, tidak ada hubungannya dengan kebenaran." Trump tidak segan melabeli mereka sebagai "orang-orang yang sangat tidak terhormat untuk diajak berurusan. Dengan mereka, tidak ada yang namanya berurusan dengan itikad baik."

Sebelumnya, media pemerintah Iran pada Jumat melaporkan garis besar kesepakatan tersebut. Informasi yang bocor menyebutkan bahwa Iran tidak akan berkomitmen untuk menyerahkan pengelolaan Selat Hormuz dan bahwa kesepakatan itu akan menuntut pelepasan dana Iran yang dibekukan senilai $24 miliar. Menanggapi hal ini, Trump juga menyoroti tindakan Iran yang terus menargetkan kapal-kapal di selat tersebut, menyebutnya "sama sekali tidak dapat diterima." Ia mendesak, "Mereka sebaiknya segera memperbaiki tindakan mereka, dan secepatnya!"
Pernyataan keras Trump ini kontras dengan optimismenya pada Kamis sebelumnya, di mana ia sempat menyatakan keyakinan bahwa AS dan Iran akan mencapai kerangka kesepakatan yang mungkin dapat ditandatangani pada akhir pekan. "Kami baru saja mencapai penyelesaian besar atas perang dengan Iran," kata Donald Trump kepada wartawan di Ruang Oval. Ia menambahkan bahwa sejumlah dokumen sedang dipersiapkan dan bisa segera ditandatangani, bahkan menyebut Eropa sebagai tuan rumah potensial untuk upacara penandatanganan.
Namun, Teheran sendiri telah membantah bahwa ada kesepakatan yang telah difinalisasi, menambah lapisan kerumitan dalam dinamika hubungan kedua negara. Ketegangan ini menunjukkan betapa rapuhnya upaya diplomatik di tengah saling tuding dan bocoran informasi yang tidak terverifikasi.

































