Ibas: Seni Budaya Fondasi Identitas dan Ekonomi

Bangkaterkini.id, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, atau akrab disapa Ibas, menegaskan urgensi penguatan seni budaya kreatif sebagai fondasi identitas bangsa sekaligus motor penggerak

Dharma

Ibas: Seni Budaya Fondasi Identitas dan Ekonomi

Bangkaterkini.id, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, atau akrab disapa Ibas, menegaskan urgensi penguatan seni budaya kreatif sebagai fondasi identitas bangsa sekaligus motor penggerak pembangunan ekonomi nasional. Pernyataan ini disampaikan Ibas dalam sebuah audiensi bertajuk ‘Seni Budaya Kreatif Sebagai Identitas Bangsa: Menjaga dan Menghidupkan Warisan Budaya Indonesia’ di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Seni Sedunia pada Selasa (15/4) lalu.

Ibas menyoroti kekayaan tak terhingga yang dimiliki Indonesia dalam bidang seni dan budaya, mulai dari ragam tarian, alunan musik, hingga karya seni rupa dan pertunjukan. "Potensi luar biasa ini seharusnya tidak hanya kuat di kancah domestik, tetapi juga mampu kita angkat ke panggung internasional," ujarnya. Ia menekankan bahwa industri seni budaya kreatif bukan sekadar penegas jati diri bangsa, melainkan juga generator ekonomi yang prospektif, baik di pasar lokal maupun global. Ibas secara khusus mengajak generasi muda untuk lebih mencintai, menjaga, dan mengembangkan warisan budaya sendiri, alih-alih hanya terpukau pada budaya asing. "Kita harus mendidik mereka untuk tidak hanya melestarikan, tetapi juga memajukan dan mempercepat manfaat dari budaya kita," tegasnya.

Ibas: Seni Budaya Fondasi Identitas dan Ekonomi
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dalam konteks pelestarian, Ibas menggarisbawahi pentingnya pendekatan inovatif dan kreatif, termasuk integrasi warisan budaya dengan terobosan di era digital. Ia mengakui bahwa pesatnya digitalisasi dan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI), NFT, serta galeri digital, menghadirkan tantangan sekaligus peluang. "Teknologi ini ibarat dua mata pisau; bisa menjadi potensi besar, namun juga ancaman jika tidak dikelola secara bijaksana," jelasnya. Oleh karena itu, sinergi antara tradisi budaya Indonesia, baik klasik maupun modern, dengan inovasi teknologi harus diperkuat demi menjaga relevansi dan daya saing seni budaya bangsa di kancah global.

Tidak hanya itu, Ibas juga menyoroti berbagai kendala yang dihadapi para pelaku seni, mulai dari minimnya akses pasar hingga kurangnya apresiasi ekonomi terhadap karya-karya mereka. Ia menegaskan bahwa sektor seni budaya bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan juga instrumen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. "Para pekerja seni membutuhkan perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) serta kebijakan yang pro-mereka, sehingga mereka dapat berkarya tanpa rasa cemas," tambahnya.

Guna memperkuat ekosistem seni dan budaya, Ibas mengusulkan serangkaian langkah strategis, meliputi promosi budaya lintas negara, penguatan peran BUMN di sektor pariwisata dan kebudayaan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang seni dan budaya, seperti kurator dan pemandu wisata. Perhatian khusus juga diberikan pada revitalisasi museum agar tetap relevan di era digital. Ibas mendorong digitalisasi koleksi, pengembangan fitur interaktif berbasis teknologi seperti AI dan video mapping, serta pembentukan platform digital terintegrasi untuk museum-museum di seluruh Indonesia. "Museum harus bertransformasi menjadi ruang yang hidup dan dinamis, bukan sekadar tempat statis. Teknologi memungkinkan kita menyajikan pengalaman yang lebih edukatif dan memikat," jelasnya.

Ibas menegaskan kembali bahwa seni adalah pewaris peradaban bangsa dan instrumen vital untuk memperkokoh persatuan serta kedaulatan negara. "Seni adalah bahasa universal yang melampaui segala batasan, menjadi jembatan penghubung antar bangsa. Lebih dari sekadar simbol identitas, seni juga merefleksikan nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan keadilan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," pungkasnya.

Dalam kesempatan audiensi tersebut, berbagai aspirasi turut disampaikan oleh para pelaku seni. Bayu Genia Chrisby dari Galeri Nasional menyoroti infrastruktur galeri yang masih terbatas. Pradetya Novitri dari Yayasan Titimangsa mengemukakan bahwa seni teater semakin diminati, namun masih membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah. Dewi Ratna Ningsih, Putri Indonesia 2025, menekankan pentingnya jaminan kesejahteraan, termasuk asuransi, bagi para seniman. Sementara itu, Nyoman Trianawati menyuarakan kebutuhan akan ruang dan pendanaan untuk pelestarian tari tradisional. Kathalizsa dan Agung Sentausa menyoroti kendala akses pendanaan, manajemen seni yang belum profesional, serta urgensi pembaruan regulasi ketenagakerjaan yang adaptif terhadap industri kreatif.

Seluruh pandangan ini menggarisbawahi urgensi sinergi antara pemerintah, legislatif, dan komunitas seni dalam membangun ekosistem kebudayaan yang kokoh dan berkelanjutan. Fraksi Partai Demokrat, dalam kesempatan ini, juga menegaskan komitmennya melalui program Dana Indonesiana 2.0 serta pentingnya regulasi yang melindungi HKI para seniman. Penguatan sektor seni dan budaya, demikian disimpulkan, bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan dukungan kolektif dari sektor swasta, masyarakat, dan lembaga budaya. Kolaborasi multipihak ini krusial untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat kebudayaan kreatif terkemuka di Asia Tenggara dan dunia.

Sebagai wujud dukungan nyata, Ibas menyerahkan bantuan simbolis kepada Kepala Museum Nasional, Indira Estianty Nurjadin, yang diharapkan dapat menunjang operasional dan pengembangan museum. Ia kemudian mengajak para peserta meninjau koleksi museum, termasuk menjajal fitur interaktif AI ‘Paras Nusantara’ dan mengamati koleksi ikonik seperti Arca Bhairawa serta fosil Homo erectus yang baru kembali ke tanah air setelah lebih dari 130 tahun. Sejumlah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, termasuk Marwan Cik Asan, Sabam Sinaga, Iman Adinugraha, dan Anita Jacoba Gah, turut hadir dalam acara penting ini.

Ikuti Kami :

Tags

Related Post

Ads - Before Footer