Kemenbud Serius Lindungi Warisan Budaya dari Bencana

Bangkaterkini.id, Jakarta – Posisi geografis Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik menempatkannya sebagai salah satu negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia.

Dharma

Kemenbud Serius Lindungi Warisan Budaya dari Bencana

Bangkaterkini.id, Jakarta – Posisi geografis Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik menempatkannya sebagai salah satu negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia. Ancaman ini tidak hanya berdampak pada infrastruktur modern, tetapi juga warisan budaya bangsa yang tak ternilai. Menyikapi urgensi tersebut, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI baru-baru ini menghelat seminar dan pameran bertajuk ‘Cagar Budaya Tangguh Bencana yang Berkelanjutan’ di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, dengan fokus pada mitigasi dan perlindungan cagar budaya.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam pidatonya menegaskan bahwa mitigasi kebencanaan menjadi prioritas utama. Ia menyoroti insiden kerusakan 43 cagar budaya di tiga provinsi Sumatera pada akhir November 2025 akibat bencana hidrometeorologi sebagai bukti nyata kerentanan warisan budaya. "Bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga non-alam, termasuk faktor manusia. Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran dan kecintaan terhadap budaya dan alam agar tercipta keselarasan dan dapat mengurangi dampak bencana," ungkap Fadli, dalam keterangan tertulis yang diterima Bangkaterkini.id, Rabu (15/4/2026).

Kemenbud Serius Lindungi Warisan Budaya dari Bencana
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Lebih lanjut, Fadli mendorong percepatan penetapan Cagar Budaya Nasional (CBN). Menurutnya, banyak aset budaya berharga, seperti istana dan situs sejarah, yang belum terdaftar namun memiliki nilai penting sebagai warisan sekaligus potensi besar untuk pariwisata, ekonomi, dan industri budaya. "Kita harus mempercepat agar perlindungan dapat segera dilakukan," tegasnya, sembari berharap sistem perlindungan ke depan semakin baik, sehingga masyarakat lebih siap dalam menghadapi bencana, termasuk mitigasi terhadap cagar budaya.

Senada dengan Menteri, Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kemenbud, Syukur Asih Suprojo, yang hadir mewakili Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, menekankan pentingnya penguatan kapasitas kelembagaan. "Upaya pelestarian tidak cukup hanya pada aspek pemeliharaan, tetapi harus diiringi dengan kesiapsiagaan lembaga budaya dalam menghadapi risiko bencana," jelas Syukur. Ia menambahkan, pendekatan berbasis Cagar Budaya Tangguh Bencana menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan warisan budaya.

Seminar ini menghadirkan beragam narasumber ahli, termasuk Fitra Arda yang membahas ‘Cagar Budaya Tangguh Bencana’, Soehatman Ramli dengan materi ‘Manajemen Bencana dan Kelangsungan Cagar Budaya Berbasis ISO 22301’, serta arsitek sekaligus arkeolog Albertus Kriswandhono yang memaparkan topik ‘Bencana yang Tidak Ada di Berita: Rob, Amblesan, dan Kehilangan Memori sebagai Ancaman Nyata bagi Warisan Budaya’.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Kebudayaan dan Yayasan Perisai Budaya Nusantara (YPBN), yang turut dihadiri oleh Ketua YPBN Hasanuddin, perwakilan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Tim Ahli Cagar Budaya, mahasiswa, serta masyarakat pemerhati museum dan cagar budaya. Melalui seminar dan pameran ini, Kemenbud berharap dapat memfasilitasi transfer pengetahuan, memperkuat jejaring kerja antar pemangku kepentingan, dan pada akhirnya membangun sistem perlindungan cagar budaya yang lebih tangguh dan berkelanjutan di seluruh pelosok negeri.

Ikuti Kami :

Tags

Related Post

Ads - Before Footer