Bangkaterkini.id, Jakarta – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kini tengah menyoroti suami dari alumni penerima beasiswa berinisial DS, yang sebelumnya menuai kecaman publik atas pernyataan kontroversialnya, "cukup saya yang WNI, anak jangan." Suami DS, yang diidentifikasi dengan inisial AP, saat ini sedang dalam proses penyelidikan oleh LPDP karena diduga belum menuntaskan kewajiban kontribusi pascakelulusan studinya.
Ketua Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, Mohammad Lukmanul Hakim, mengonfirmasi bahwa pihak LPDP dijadwalkan akan meminta klarifikasi dari AP pada hari ini, Senin (23/2). "Dalam kasus suami DS, saat ini LPDP sedang dalam proses untuk meminta keterangan terkait kewajiban kontribusi dan pengabdian di Indonesia setelah studi," ujar Lukmanul kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan yang bersangkutan akan dilakukan secara daring.

Berdasarkan ketentuan LPDP, setiap penerima dan alumni beasiswa memiliki kewajiban untuk melaksanakan masa pengabdian dan kontribusi di Indonesia selama durasi dua kali masa studi ditambah satu tahun. Sementara itu, DS sendiri telah menyelesaikan studi S2-nya dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017.
Pernyataan DS yang Viral di Media Sosial
Kontroversi ini bermula dari unggahan video DS di akun Instagram pribadinya, @sasetyaningtyas. Dalam video tersebut, ia memperlihatkan dirinya tengah membuka sebuah paket yang telah lama dinanti. Paket tersebut berisi surat resmi dari Home Office Inggris yang mengonfirmasi bahwa anak keduanya telah resmi menjadi warga negara Inggris. DS turut memamerkan paspor Inggris yang diterima bersamaan dengan dokumen tersebut.
"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen yang penting banget yang merubah nasib dan masa depan anak-anakku, kita buka ya," ujarnya dalam video. "Ini adalah surat dari Home Office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua sudah diterima jadi WN Inggris," lanjutnya.
Dalam video tersebut, ia juga secara eksplisit menyatakan niatnya untuk mengupayakan agar anak-anaknya memiliki kewarganegaraan asing di masa depan. "I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," ucapnya, yang kemudian memicu gelombang kritik dari warganet.
DS Sampaikan Permohonan Maaf
Menyusul gelombang kecaman publik yang meluas, DS akhirnya menyampaikan permohonan maaf terbuka. Permohonan maaf tersebut diunggah melalui akun Instagramnya pada Jumat (20/2). Dalam klarifikasinya, DS menjelaskan bahwa pernyataannya dilatarbelakangi oleh rasa kekecewaan. Namun, ia mengakui bahwa langkah yang diambilnya keliru dan tidak tepat.
"Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia. Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik," tulis DS.
Ia juga menegaskan bahwa, apa pun latar belakang emosi yang mendasarinya, dampak dari pernyataan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. "Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi," pungkasnya.
