Sineas RI Mendunia di Prancis

Bangkaterkini.id, Jakarta – Indonesia kembali mengukuhkan eksistensinya di kancah perfilman global dengan partisipasi aktif dalam Clermont-Ferrand International Short Film Festival (CFISFF) 2026 di Prancis. Langkah

Dharma

Sineas RI Mendunia di Prancis

Bangkaterkini.id, Jakarta – Indonesia kembali mengukuhkan eksistensinya di kancah perfilman global dengan partisipasi aktif dalam Clermont-Ferrand International Short Film Festival (CFISFF) 2026 di Prancis. Langkah progresif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperluas cakupan film pendek Indonesia di pasar internasional, sekaligus memperkuat posisi talenta dan karya sineas Tanah Air dalam ekosistem festival, pasar, dan jejaring industri film pendek dunia.

Delegasi Indonesia berangkat dengan dukungan finansial dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, diorganisir oleh Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, serta melibatkan Minikino Film Week dan Bali International Short Film Festival dalam proses kuratorialnya.

Sineas RI Mendunia di Prancis
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyatakan bahwa kehadiran delegasi Indonesia pada perhelatan akbar ini dipandang sebagai strategi kunci untuk memperkuat posisi film pendek nasional di panggung global. "Tidak hanya berkompetisi, para sineas kita juga hadir untuk membangun jejaring, membuka akses pasar, dan memperluas peluang kolaborasi internasional," ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/2/2026). Ia menambahkan, partisipasi ini menggarisbawahi komitmen pemerintah dalam mendukung ekosistem perfilman nasional agar semakin berdaya saing dan berkelanjutan di tingkat internasional.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menegaskan bahwa kehadiran delegasi Indonesia adalah refleksi nyata dari komitmen Kementerian Kebudayaan dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional. "Melalui platform internasional seperti ini, kami mendorong talenta dan karya Indonesia untuk membangun jejaring global dan mendapatkan rekognisi tingkat dunia," ucapnya.

CFISFF 2026 berlangsung pada 30 Januari hingga 7 Februari 2026, dengan sub-acara Short Film Market yang digelar pada 2-5 Februari 2026. Festival ini dikenal sebagai salah satu panggung paling krusial bagi pertemuan film pendek dunia, baik melalui program kompetisi, non-kompetisi, maupun kegiatan pasar film dan industrinya.

Karya Indonesia Bersaing dan Unjuk Gigi

Sebuah kebanggaan, film pendek produksi Kawan Kawan Media berjudul ‘One Tropical Rain of Love and Guilt’ berhasil menembus seleksi kompetisi internasional di 48th Clermont-Ferrand International Short Film Festival. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Sein Lyan Tun (Myanmar) ini merupakan kolaborasi produksi lintas negara antara Indonesia, Myanmar, dan Thailand, menjadi bukti nyata potensi kolaborasi produksi lintas negara yang luas dalam industri film pendek.

Selain itu, film pendek Indonesia juga hadir melalui sejumlah program non-kompetisi. Dalam sesi FOCUS: South East Asia, terpilih ‘Basri dan Salma dalam Komedi yang Terus Berputar’ karya sutradara Khozy Rizal, ‘Prenjak (In the Year of Monkey)’ karya sutradara Wregas Bhanuteja, serta ‘Ragadi Maparo (Where the Wild Frangipanis Grow)’ karya sutradara Nirartha Bas Dhiwangkara. Program bertajuk BLOOD menampilkan ‘Darah Ksatria’ yang disutradarai oleh Widya Arafah dan Arjuna Asa. Film lain karya Khozy Rizal, ‘Little Rebels Cinema Club’, turut tampil dalam program Market Picks.

Talenta Sineas Nasional di Panggung Profesional

Para talenta film pendek Indonesia juga unjuk gigi melalui Talent Connexion, sebuah platform profesional yang mempertemukan pembuat film dengan proyek pengembangan dan para profesional industri internasional. Nirartha Bas Dhiwangkara, sebagai bagian dari delegasi Indonesia, terpilih untuk mempresentasikan proyek film pendek animasi terbarunya berjudul ‘Haunted’. Vivian Idris, mewakili Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, menekankan bahwa partisipasi ini membuka ruang dialog, memperkaya perspektif, dan merintis jalur kolaborasi jangka panjang bagi talenta film Indonesia.

Produser Indonesia, Olivia Griselda, juga mencatatkan namanya di Animation Lab (co-organised by Clermont Ferrand Short Film Market and the CEE Animation Workshop) melalui film animasi ‘My Dear Little Red Monster’, yang merupakan kolaborasi antara Indonesia dan Singapura.

Fokus Asia Tenggara dan Jaringan Global

Tahun ini, CFISFF untuk pertama kalinya menetapkan Asia Tenggara sebagai kawasan fokus utama. Kehadiran Asia Tenggara di festival film pendek terbesar dunia ini diwujudkan melalui representasi film-film pendek dalam berbagai program non-kompetisi, serta partisipasi organisasi dan delegasi negara di Short Film Market, baik lewat Market Screening maupun stan pada sesi pasar film pendek internasional.

Pasar film CFISFF juga menjadi ruang pertemuan penting bagi kawasan Asia Tenggara dengan kehadiran bilik Asian Film Alliance Network (AFAN). Bilik AFAN berperan sebagai pusat pameran dan titik temu para delegasi Asia Tenggara yang hadir, terwujud berkat kerja sama dengan Thai Film Foundation, bertujuan meningkatkan visibilitas Asia di ekosistem pasar film pendek internasional.

AFAN sendiri merupakan program jejaring yang mempertemukan badan perfilman nasional di Asia untuk memperkuat kemitraan dan pertukaran informasi. Saat ini, AFAN diikuti oleh lembaga perfilman dari Korea Selatan (KOFIC), Indonesia (Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia), Malaysia (FINAS), Mongolia (MNFC), Filipina (FDCP), Singapura (IMDA/SFC), dan Taiwan (TAICCA). AFAN pertama kali terbentuk pada Cannes Film Festival 2023 atas inisiatif Korean Film Council, dan terus mengembangkan jejaringnya, termasuk kemitraan dengan European Film Agency Directors Association pada Mei 2024, serta bergabungnya Thailand pada Mei 2025.

Diskusi Industri dan Harapan Kolaborasi

Dalam rangka Short Film Market 2026, Short Film Conference dengan Minikino sebagai salah satu anggota aktif akan menggelar diskusi panel bertajuk ‘Money Flow in the Short Film Industry’, yang akan mengupas tuntas dampak realitas ekonomi terhadap distribusi film pendek pada Senin, 2 Februari. Sineas Indonesia Khozy Rizal juga akan terlibat sebagai panelis dalam diskusi tersebut, serta dalam sesi Industry Round Table: SEA Upcoming Talents keesokan harinya.

Program ‘Indonesian Entourage: A Sleeping Giant’ yang menjadi bagian dari Market Screening dalam 41st Short Film Market Clermont-Ferrand menghadirkan enam film pendek Indonesia. Program ini menggambarkan serangkaian kenangan, impian, dan harapan yang nyaris terlupakan, terkubur, dan bertransformasi, mengibaratkan Indonesia sebagai raksasa yang sedang tidur dari berbagai perspektif.

Direktur Program Minikino Film Week, Bali International Short Film Festival, Fransiska Prihadi, selaku kurator program, menekankan pada kualitas karya yang dinilai mampu merepresentasikan capaian mutakhir film pendek Indonesia. "Film-film yang terpilih memiliki daya tarik dan relevansi tinggi di mata industri internasional. Sebagian film pendek yang terpilih merupakan karya yang diproduksi melalui program Layar Indonesiana 2025 yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia," jelasnya.

Daftar film dalam program tersebut meliputi: ‘Anak Macan (My Plastic Mother)’ karya Amar Haikal; ‘Dengarlah Nyanyian Ping Pong (Hear the Ping Pong Sing)’ karya Andrew Kose; ‘αLPα’ karya Dhiwangkara Seta; ‘Pengais Mimpi (When The Blues Goes Marching In)’ karya Beny Kristia; ‘Dihapus dari Peta (Erased from the Map)’ karya Maarij Reka; serta ‘Anaktana (Child of the Land)’ karya Theogracia Rumansara dan Richard Suwae.

Melalui Market Screening ini, film-film pendek Indonesia mendapatkan akses langsung kepada para profesional industri film pendek dunia. Program ini diharapkan dapat membuka gerbang bagi perjalanan lebih lanjut di sirkuit festival film pendek internasional lainnya, selain membuka kemungkinan akuisisi dan kolaborasi lanjutan dengan distributor dan mitra industri film global.

Ikuti Kami :

Tags

Related Post

Ads - Before Footer