<strong>Bangkaterkini.id, </strong> Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menggarap sebuah proyek infrastruktur vital untuk mengatasi dua permasalahan kronis di Ibu Kota: banjir dan kemacetan lalu lintas. Rencana pembangunan flyover di ruas Jalan Daan Mogot, yang uniknya akan dirancang lebih rendah dari permukaan sungai, menjadi fokus utama, didukung oleh pemasangan pompa stasioner berkapasitas tinggi.
Pada Rabu (4/2/2026), kondisi lalu lintas di Jalan Daan Mogot Raya terpantau sangat padat. Kendaraan berbagai jenis, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk boks dan kontainer, harus bersaing memperebutkan ruang jalan yang terbatas. Situasi ini diperparah oleh ancaman genangan air yang rutin muncul. Gubernur DKI, Pramono Anung, menjelaskan bahwa Sungai Mookervart yang berada di sisi jalan sudah tidak mampu menampung volume air saat curah hujan melebihi 100 milimeter per hari, memicu banjir dan kemacetan parah di area tersebut.

Flyover yang direncanakan akan membentang sepanjang sekitar 2 kilometer ini akan dibangun di sepanjang ruas Daan Mogot yang kerap terendam, khususnya dari pertigaan Jalan Tubagus Angke hingga perempatan Cengkareng, Jakarta Barat. Gubernur Pramono Anung telah menginstruksikan Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk segera menghitung seluruh aspek teknis, termasuk desain konstruksi dan perencanaan pelaksanaannya.
Selain proyek flyover, Pemprov DKI juga terus melanjutkan program normalisasi sungai di berbagai wilayah Jakarta sebagai bagian integral dari strategi jangka panjang pengendalian banjir. Seluruh langkah penanganan banjir ini ditargetkan dapat rampung secara bertahap hingga tahun 2027.
Sebagai respons cepat dan upaya penanganan jangka pendek, Pemprov DKI Jakarta sebelumnya telah memasang tiga pompa stasioner di titik-titik rawan genangan Daan Mogot, yakni di Km 13, Km 13A, dan Km 13B. Pompa-pompa baru ini memiliki kemampuan sedot air yang jauh lebih besar, mencapai sekitar 7.000 liter per detik, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan pompa mobile yang digunakan sebelumnya. Langkah ini diharapkan dapat memberikan solusi sementara yang efektif dalam mengurangi genangan air saat intensitas hujan tinggi, sembari menunggu realisasi penuh proyek flyover dan normalisasi sungai.
