PSI Benturkan PDIP Jokowi Taktik Murahan

Bangkaterkini.id, Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus melontarkan tudingan keras terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia menuduh PSI sengaja menciptakan benturan antara PDIP dengan Presiden Joko

Dharma

PSI Benturkan PDIP Jokowi Taktik Murahan

Bangkaterkini.id, Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus melontarkan tudingan keras terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia menuduh PSI sengaja menciptakan benturan antara PDIP dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) demi meraih simpati publik. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas klaim Ketua DPP PSI Bestari Barus yang menyebut PDIP masih terus membicarakan Jokowi.

Deddy menegaskan bahwa PDIP tidak akan pernah melupakan sosok Jokowi. Namun, ia menekankan bahwa keberadaan dan perjalanan politik Jokowi kini menjadi "pelajaran berharga" serta studi kasus penting dalam setiap kegiatan pengkaderan internal partai.

PSI Benturkan PDIP Jokowi Taktik Murahan
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Ia merinci beberapa poin pembelajaran krusial, termasuk bagaimana kekuasaan dapat mengubah seseorang, memunculkan ambisi dinasti yang tersembunyi di balik citra kesederhanaan, serta potensi kekuasaan untuk membengkokkan fondasi demokrasi dan hukum. "Dalam konteks inilah, di internal PDIP, sosok Jokowi tidak akan pernah dilupakan, melainkan menjadi pelajaran pahit untuk masa depan," tegasnya.

Deddy menambahkan bahwa secara publik, PDIP tidak akan aktif membahas Jokowi kecuali ada urgensi politik yang mengharuskan tanggapan. Ia menuding, "Perdebatan mengenai PDIP dan Jokowi ini secara sistematis dan konsisten diorkestrasi oleh petinggi PSI selama berbulan-bulan demi keuntungan politik mereka sendiri."

Menurut Deddy, PSI berupaya keras mengaitkan PDIP dan Jokowi sebagai strategi untuk meraup simpati publik melalui konflik yang diciptakan. "Mereka mengira dengan membenturkan PDIP dan Jokowi, PSI akan semakin populer. Ini adalah taktik murahan dari para petinggi PSI yang tidak memahami cara membangun partai melalui pengkaderan, penguatan organisasi, dan kerja keras di lapangan," kritiknya. Ia bahkan menyerukan agar para "kutu loncat" yang kini memimpin PSI mulai belajar membangun partai dengan "keringat dan darah," bukan sekadar membajak kader atau menciptakan sensasi di media.

Senada dengan Deddy, politikus PDIP Guntur Romli menegaskan bahwa nama Jokowi sama sekali tidak pernah dibahas dalam forum internal partai. Ia meluruskan narasi yang beredar, "Jokowi sudah tidak pernah diperbincangkan di PDI Perjuangan. Jika ada yang masih mencoba mengaitkannya, kami perlu menjelaskan: Jokowi dipecat dan dikeluarkan oleh PDI Perjuangan, bukan mundur atau pergi."

Guntur menegaskan bahwa hubungan PDIP dengan Jokowi telah putus pasca sanksi pemecatan akibat pelanggaran AD/ART partai. "Jokowi dipecat dan diusir dari PDI Perjuangan. Ia adalah Malin Kundang," sindirnya tajam.

Ia menambahkan, segala persoalan yang kini melekat pada Jokowi tidak lagi menjadi tanggung jawab PDIP. "Jika rakyat kini menghadapi kesulitan, silakan tagih tanggung jawab Jokowi. PDIP sudah tegas memecatnya karena melanggar. Kini giliran rakyat, apakah akan menyambut atau menagih janji," pungkas Guntur.

Di sisi lain, Ketua DPP PSI Bestari Barus sebelumnya menyikapi klaim Andreas Hugo Pareira dari PDIP yang menyatakan partainya telah melupakan Jokowi. Bestari justru menyinggung bahwa nama Jokowi masih terus menjadi perbincangan di internal PDIP. "Alhamdulillah, kalau sudah lupa itu berarti sudah tidak ingat. Tapi ini kan masih terus dibicarakan," ujarnya, menyiratkan keraguan.

Bestari mengklaim PDIP belum sepenuhnya melupakan sosok Jokowi dan "belum move on." Ia juga mengingatkan bahwa kemenangan Jokowi dalam pemilu adalah berkat dukungan rakyat, bukan semata-mata karena PDIP. "Kami cukup prihatin dengan perasaan yang dialami PDIP atas ‘hengkangnya’ Pak Jokowi ke partai kami," pungkas Bestari, mengakhiri pernyataannya dengan nada menyindir.

Ikuti Kami :

Tags

Related Post

Ads - Before Footer