Putin Terjepit Krisis Bahan Bakar Akankah Berunding

Bangkaterkini.id, Angkatan bersenjata Ukraina secara konsisten melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi vital di seluruh Rusia, termasuk di wilayah Krimea yang dianeksasi. Jalur logistik Rusia di

Dharma

Putin Terjepit Krisis Bahan Bakar Akankah Berunding

Bangkaterkini.id, Angkatan bersenjata Ukraina secara konsisten melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi vital di seluruh Rusia, termasuk di wilayah Krimea yang dianeksasi. Jalur logistik Rusia di daerah pendudukan, serta sejumlah kilang minyak strategis, telah menjadi target utama serangan jarak jauh Ukraina, memicu kekhawatiran akan krisis bahan bakar yang semakin parah di negeri Beruang Merah.

Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas serangan ini meningkat signifikan. Sepanjang Juni saja, kilang-kilang minyak di Moskow, Nizhnekamsk, Tyumen, dan Volgograd mengalami kerusakan parah akibat hantaman drone Ukraina. Data menunjukkan, pada bulan sebelumnya, total 16 kilang minyak telah menjadi sasaran. Konsekuensinya, produksi bensin Rusia dilaporkan anjlok hingga 25 persen, sebagaimana diungkapkan oleh kantor berita Reuters. Saat ini, kapasitas produksi bensin Rusia hanya mencapai 85 ribu ton per hari, jauh di bawah kebutuhan konsumsi musim panas yang diperkirakan mencapai 110 ribu ton per hari. "Musim panas ini Rusia tengah menuju krisis bahan bakar yang mungkin menjadi yang terburuk dalam sejarahnya," demikian peringatan dari para analis lembaga pemikir Amerika Serikat, Energy Intelligence.

Putin Terjepit Krisis Bahan Bakar Akankah Berunding
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Putin Akui Kelangkaan Pasokan

Pada 28 Juni, Presiden Rusia Vladimir Putin untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui adanya "tingkat tertentu kekurangan bahan bakar." Dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Rusia, Putin menyatakan, "Memang ada kerusakan. Namun semua fasilitas yang rusak diperbaiki dengan cukup cepat, dan persoalan yang muncul tidak bersifat kritis."

Pengakuan ini dinilai penting oleh Margarita Zavadskaya, seorang ilmuwan politik di Finnish Institute of International Affairs. "Putin terpaksa mengakui secara terbuka bahwa masalah ini memang ada," ujarnya kepada DW. "Yang lebih penting lagi, dia juga menyebut penyebabnya—serangan drone Ukraina." Menurut perkiraan portal ekonomi RBC, pembatasan penjualan bahan bakar kini telah diberlakukan di 40 wilayah Rusia. Namun, portal berita Rusia Wjorstka, yang menganalisis data resmi dan laporan saksi mata, menyebutkan bahwa jumlah wilayah terdampak sebenarnya mencapai 78. Di banyak kota, antrean panjang kendaraan terlihat mengular di stasiun pengisian bahan bakar.

Christina Harward, seorang analis dari Institute for the Study of War (ISW) di Washington, D.C., menjelaskan bahwa Ukraina telah berupaya menyerang kilang-kilang minyak sejak beberapa waktu lalu. "Perbedaannya tahun ini adalah Ukraina secara signifikan meningkatkan jumlah maupun kualitas drone mereka," kata Harward kepada DW. "Jangkauan drone diperluas, dan dalam beberapa bulan terakhir mereka juga secara sistematis berupaya mendeteksi serta menghancurkan sistem pertahanan udara Rusia."

Melumpuhkan Logistik Militer Rusia

Selain menargetkan infrastruktur energi, militer Ukraina juga berfokus melumpuhkan jalur suplai tentara Rusia di dekat garis depan. Harward menyoroti bahwa peningkatan serangan terhadap sasaran dalam radius 20 hingga 200 kilometer ke dalam wilayah Rusia merupakan "perkembangan baru dari pihak Ukraina dalam perang ini."

Laporan-laporan terkini menunjukkan bahwa pasokan logistik ke garis depan mulai tersendat. "Ada laporan bahwa prajurit di sekitar Huljajpole—di sebelah timur dan barat wilayah Zaporizhzhia—mengalami kekurangan bahan bakar, amunisi, dan juga berbagai kebutuhan logistik lainnya," ungkap Harward. Di wilayah Donetsk, pasokan amunisi artileri maupun drone pengintai juga semakin sering mengalami kendala. Harward juga menekankan pentingnya Jembatan Krimea, yang belakangan menjadi sasaran serangan Ukraina. Jembatan tersebut merupakan jalur logistik krusial, tidak hanya bagi militer Rusia, tetapi juga bagi warga sipil di semenanjung tersebut. Kerusakan permanen Jembatan Krimea akan "benar-benar akan memutus salah satu urat nadi utama yang dimiliki Rusia," jelasnya.

Krimea: Titik Lemah Rusia?

Sejak 26 Juni, otoritas Krimea bentukan Moskow telah memberlakukan status darurat di seluruh semenanjung dan ibu kota Sevastopol. Kondisi darurat ini ditetapkan menyusul serangkaian serangan Ukraina yang memicu kelangkaan bahan bakar dan pangan di Krimea.

Menurut sejarawan Inggris Mark Galeotti, Ukraina telah mengidentifikasi Krimea sebagai titik lemah Rusia. "Menjaga pasokan di sana—bahan bakar, energi, air, dan seluruh kebutuhan penting lainnya—sangat sulit," ujar profesor emeritus University College London (UCL) itu kepada DW. "Karena itu, mereka berharap tekanan terhadap Krimea akan memaksa Putin memulai perundingan damai yang serius, tentu dengan syarat mereka sendiri," jelasnya mengenai strategi Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan terhadap depot bahan bakar dan kilang minyak sebagai "sanksi jangka menengah dan jangka panjang" yang dimaksudkan untuk memaksa Moskow kembali ke meja perundingan.

Namun, Galeotti juga memperingatkan bahwa langkah tersebut berisiko mendorong Putin melakukan eskalasi. "Penilaian terhadap risiko inilah yang kini membentuk cara pandang di Kyiv," katanya. Meskipun demikian, ia menilai spekulasi mengenai kemungkinan Ukraina merebut kembali Krimea secara militer lebih merupakan "perang psikologis." "Saya kira itu bukan hanya sangat sulit diwujudkan, tetapi juga akan menciptakan situasi yang memaksa Putin merespons dengan langkah-langkah eskalatif. Kehilangan Krimea akan menjadi penghinaan besar baginya, karena wilayah itu dipandang sebagai ‘permata mahkota’ dari seluruh penaklukannya." Oleh karena itu, dari sudut pandang Ukraina, "tujuannya lebih kepada memberi tekanan ketimbang benar-benar merebut wilayah tersebut," kata Galeotti.

Akankah Putin Terpaksa Berdamai?

Menjawab pertanyaan tentang seperti apa bentuk eskalasi yang mungkin dilakukan Rusia, Galeotti meyakini Putin masih memiliki banyak opsi. "Dia bisa memobilisasi ratusan ribu personel cadangan tambahan, meski langkah itu akan sangat tidak populer secara politik dan berpotensi memicu keresahan," paparnya. "Dia juga masih memiliki sekitar 150 ribu wajib militer yang sejauh ini belum dikirim ke medan perang—dan itu pun akan sangat tidak populer. Jika mempertimbangkan kemungkinan lain, ada pula skenario terburuk, yang menurut saya sangat kecil kemungkinannya, yaitu penggunaan senjata nuklir taktis. Pilihan memang ada, tetapi semuanya pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Pertanyaan utamanya adalah seberapa jauh Putin bersedia melangkah."

Lalu, apakah strategi Kyiv untuk memaksa Rusia berdamai benar-benar menghasilkan dampak yang diinginkan? Menurut Galeotti, hingga kini "belum ada alasan untuk mengatakan bahwa ekonomi Rusia berada di ambang kehancuran, masyarakat siap melakukan pemberontakan massal, atau kudeta akan segera terjadi." Namun, dia juga meragukan Rusia mampu mempertahankan perang dalam skala seperti sekarang untuk waktu yang lebih lama. "Dalam satu tahun lagi, kerusakan terhadap ekonomi Rusia akan terlalu besar," prediksinya. Dalam situasi seperti itu, "setidaknya perlu mulai memikirkan alternatif lain," pungkas Galeotti.

Ikuti Kami :

Tags

Related Post

Ads - Before Footer