Bangkaterkini.id, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, baru-baru ini menegaskan bahwa tidak ada rencana penarikan pasukan Israel dari Lebanon. Keputusan strategis ini, menurut Katz, telah mendapatkan dukungan penuh dari Amerika Serikat, menandakan konsensus penting di tengah ketegangan regional.
Dalam pidatonya yang disampaikan di Tel Aviv pada Kamis, Katz secara gamblang menyatakan, "Kami telah mengumumkan bahwa dalam keadaan apa pun kami tidak akan menarik diri dan, hingga saat ini – ini adalah pencapaian diplomatik – tidak ada tuntutan Amerika agar Israel menarik diri dari Lebanon." Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menginformasikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengenai posisi Israel, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga telah menyampaikan alasan penempatan pasukan kepada Presiden AS Donald Trump.

Senada dengan Katz, PM Netanyahu dalam konferensi yang sama mengulangi komitmennya untuk mempertahankan kehadiran militer Israel. "Selama saya menjabat sebagai Perdana Menteri, kami akan mempertahankan zona keamanan di Lebanon selatan – selama diperlukan," ujarnya. Netanyahu menambahkan bahwa militer Israel saat ini secara aktif membongkar semua infrastruktur milik Hizbullah di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun menolak keras pendudukan Israel di wilayah selatan negaranya, serta menentang segala bentuk campur tangan asing dalam urusan domestik Lebanon. Pernyataan Aoun ini secara tersirat merupakan sindiran tajam yang ditujukan kepada Iran, yang dikenal sebagai pendukung utama kelompok Hizbullah.
Sementara itu, Teheran menegaskan bahwa perdamaian yang stabil di Lebanon merupakan pilar fundamental untuk mencapai kesepakatan definitif dengan Amerika Serikat, yang diharapkan dapat mengakhiri konflik Timur Tengah secara keseluruhan. Pekan lalu, Washington dan Teheran telah menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan untuk mencapai penyelesaian permanen antara kedua negara, menyusul perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Konflik di Lebanon sendiri memanas sejak Hizbullah menyeret negara itu ke dalam perang Timur Tengah pada 2 Maret. Saat itu, Hizbullah melancarkan serangan roket ke Israel sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran dalam sebuah serangan yang diklaim dilakukan oleh AS dan Israel. Israel merespons dengan melancarkan serangan udara dan darat yang menurut Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.100 orang, berujung pada pendudukan zona keamanan sepanjang 10 kilometer di Lebanon selatan di sepanjang perbatasan.
Saat ini, Israel dan Lebanon terlibat dalam putaran pembicaraan yang dimediasi oleh AS di Washington. Pembicaraan ini bertujuan untuk mencari solusi diplomatik atas konflik yang berkepanjangan, termasuk isu pelucutan senjata Hizbullah dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

































