Rusia Latih Kekuatan Nuklir Skala Raksasa

Bangkaterkini.id, Federasi Rusia pada 19 Mei lalu meluncurkan latihan nuklir strategis berskala masif, sebuah manuver yang secara resmi diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Rusia sebagai persiapan

Dharma

Rusia Latih Kekuatan Nuklir Skala Raksasa

Bangkaterkini.id, Federasi Rusia pada 19 Mei lalu meluncurkan latihan nuklir strategis berskala masif, sebuah manuver yang secara resmi diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Rusia sebagai persiapan untuk ‘menggunakan kekuatan nuklir menghadapi ancaman agresif’. Latihan ini didahului oleh manuver serupa dengan senjata nuklir taktis yang ditempatkan di Belarus, sehari sebelumnya.

Penempatan waktu latihan yang tidak biasa ini menarik perhatian, mengingat Rusia lazimnya menggelar simulasi nuklir pada Oktober. Pergeseran pola ini telah terjadi sejak Februari 2022, menjelang invasi skala penuh ke Ukraina. Latihan yang diberi sandi ‘Guntur’ ini melibatkan seluruh ‘triade nuklir’ Rusia: rudal balistik antarbenua (ICBM), kapal selam berkemampuan nuklir, dan armada pembom strategis.

Rusia Latih Kekuatan Nuklir Skala Raksasa
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menurut data Kementerian Pertahanan Rusia, latihan ini melibatkan lebih dari 64.000 personel dan lebih dari 7.800 unit persenjataan, termasuk peralatan militer dan khusus. Angka-angka ini mencakup lebih dari 200 peluncur rudal, 140 pesawat udara, 73 kapal permukaan, dan 13 kapal selam, delapan di antaranya merupakan kapal selam rudal strategis. Skala ini merepresentasikan porsi signifikan dari total kekuatan nuklir strategis yang dimiliki Rusia.

Manuver militer ini berlangsung di tengah eskalasi serangan drone jarak jauh Ukraina yang menargetkan wilayah Rusia. Hanya dua hari sebelum latihan dimulai, Moskow mengalami serangan drone terbesar dalam sejarahnya, yang mengakibatkan tiga warga tewas dan 17 lainnya luka-luka di wilayah ibu kota. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, secara terbuka menyebut serangan tersebut sebagai ‘respons yang adil’ terhadap gempuran Rusia di Ukraina, termasuk insiden pada 14 Mei di Kyiv yang menewaskan 24 orang akibat rudal yang menghantam bangunan sembilan lantai.

Meskipun tidak ada pernyataan resmi yang secara eksplisit menghubungkan serangan drone di Moskow dengan latihan nuklir ini, para analis mencatat bahwa kekuatan nuklir strategis Rusia selalu dalam kondisi siaga konstan. Oleh karena itu, pengerahan kekuatan semacam ini secara teknis tidak membutuhkan waktu persiapan yang lama dibandingkan jenis kekuatan militer lainnya.

Latihan di Belarus dan Kekhawatiran Barat

Sebelum dimulainya latihan strategis utama, manuver dengan senjata nuklir taktis telah lebih dulu digelar di Belarus. Rusia diketahui menempatkan hulu ledak nuklir taktis di negara tetangganya itu sejak tahun 2023. Kementerian Pertahanan Belarus menyatakan bahwa tujuan latihan ini adalah untuk menguji kesiapan unit-unit senjata nuklir dalam meluncurkan rudal dari lokasi yang tidak dipersiapkan sebelumnya.

Ini bukan kali pertama Belarus menggelar latihan nuklir taktis. Pada tahun 2024, misalnya, unit pembawa senjata nuklir telah menjalani uji kesiapan tempur, melibatkan satu batalyon rudal taktis Iskander dan satu skuadron jet tempur Su-25. Meskipun Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) juga rutin mengadakan latihan tahunan dengan kekuatan udara yang dipersenjatai bom nuklir AS di negara-negara anggotanya seperti Italia, Belanda, Belgia, Jerman, dan Turki, manuver di Belarus selalu memicu kekhawatiran serius di kalangan negara-negara Barat. Kekhawatiran ini beralasan, mengingat invasi Ukraina pada 2022 dimulai dari wilayah Belarus. Bahkan, NATO telah menganalisis skenario perang dengan Rusia sejak 2017, di mana serangan awal seringkali digambarkan dimulai dengan manuver militer berskala besar di Belarus.

Uji Coba Sarmat dan Klaim Putin

Tak lama sebelum latihan nuklir ini, pada 12 Mei, Rusia juga telah menguji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) terbarunya, Sarmat. Rudal berat ini dirancang sebagai pengganti R-36M Voevoda, rudal buatan perusahaan Ukraina Yuzhmash yang kini tidak lagi dapat dipelihara oleh produsen aslinya.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengklaim bahwa Sarmat memiliki jangkauan lebih dari 35.000 kilometer, dua kali lipat dari Voevoda, memungkinkannya mencapai target melalui berbagai lintasan yang sulit dicegat. Putin juga menyoroti fitur lain seperti lintasan penerbangan suborbital dan bobot peluncuran yang disebutnya melampaui ICBM lain. Namun, klaim-klaim mengenai semua parameter ini belum terbukti dalam uji coba praktis. Dalam dua peluncuran yang berhasil, rudal tersebut dilaporkan hanya menempuh jarak kurang dari 6.000 kilometer.

Dalam berbagai kesempatan, Putin seringkali menyinggung senjata strategis, khususnya yang berkemampuan nuklir. Saat mengomentari peluncuran Sarmat, ia turut menyebut proyek nuklir lainnya, seperti rudal jarak menengah Oreshnik yang diklaim akan beroperasi pada tahun 2025. Selain itu, Putin juga menyinggung sistem propulsi nuklir canggih, yakni kendaraan bawah laut Poseidon dan rudal jelajah Burevestnik, yang menurut laporan telah berhasil diuji coba pada tahun 2025. Akan tetapi, hingga kini belum ada bukti independen yang memverifikasi keberhasilan uji coba kedua sistem tersebut.

Ikuti Kami :

Tags

Related Post

Ads - Before Footer