Bangkaterkini.id, Ketegangan di Yerusalem Timur kembali memuncak setelah sekelompok pemukim Israel dilaporkan menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa pada Jumat (22/5) waktu setempat. Insiden provokatif ini tidak hanya melibatkan penyerangan terhadap dua penjaga keamanan, tetapi juga dianggap sebagai preseden berbahaya oleh Otoritas Yerusalem Palestina.
Menurut pernyataan Otoritas Yerusalem Palestina, yang dikutip Bangkaterkini.id, setidaknya sembilan pemukim Israel memaksa masuk ke area suci tersebut. Mereka dilaporkan membawa persembahan roti, yang diyakini terkait dengan perayaan hari raya Yahudi Shavuot, dan berhasil mencapai halaman Kubah Batu (Dome of the Rock) setelah melumpuhkan penjaga.

Masjid Al-Aqsa sendiri merupakan salah satu situs tersuci ketiga dalam Islam, sementara Kubah Batu, dengan kubah emasnya yang ikonik, memiliki makna mendalam sebagai tempat Nabi Muhammad SAW memulai perjalanan Isra dan Mi’raj. Bagi umat Yahudi, kompleks ini dikenal sebagai Bukit Bait Suci atau Temple Mount. Berdasarkan status quo yang telah lama berlaku, umat Yahudi diizinkan berkunjung namun dilarang keras melakukan ritual keagamaan atau berdoa di dalam kompleks tersebut.
Otoritas Yerusalem Palestina secara tegas mengutuk insiden ini, menggambarkannya sebagai "preseden berbahaya" dan yang pertama kalinya terjadi sejak pendudukan Yerusalem pada tahun 1967. Mereka juga menyoroti bahwa penyerbuan ini bertepatan dengan "penghasutan luas oleh kelompok-kelompok ekstremis Bukit Bait Suci" selama perayaan Shavuot, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memaksakan realitas baru di dalam kompleks suci.
Secara terpisah, Departemen Wakaf Islam di Yerusalem mengonfirmasi bahwa para pemukim Israel memasuki kompleks melalui Gerbang Al-Ghawanimah setelah menyerang penjaga. Mereka berhasil mencapai halaman Kubah Batu sambil membawa "persembahan tanaman," yang dinilai sebagai "eskalasi berbahaya dan upaya untuk memaksakan ritual keagamaan di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa."
Insiden terbaru ini terjadi di tengah situasi yang sudah tegang, di mana lebih dari 70.000 jemaah Palestina tetap melaksanakan salat Jumat di Masjid Al-Aqsa meskipun ada pembatasan ketat dari Israel. Sejak tahun 2003, Kepolisian Israel memang telah mengizinkan umat Yahudi untuk memasuki kompleks setiap hari, kecuali pada hari Jumat dan Sabtu. Namun, warga Palestina secara konsisten memandang penyerbuan semacam itu sebagai tindakan yang sangat provokatif, melanggar kesucian situs suci, dan bertujuan untuk mengubah status quo keagamaan yang telah ada.
Palestina juga terus menyuarakan keprihatinan atas upaya Israel yang selama beberapa dekade terakhir dianggap telah meningkatkan langkah-langkah untuk "men-Yahudi-kan" Yerusalem Timur, termasuk Masjid Al-Aqsa, serta menghapus identitas Arab dan Islamnya. Bagi Palestina, Yerusalem Timur adalah ibu kota masa depan negara mereka, sebuah klaim yang didukung oleh resolusi internasional yang tidak mengakui pendudukan Israel atas kota tersebut pada tahun 1967 maupun aneksasinya pada tahun 1980 silam.
