Bangkaterkini.id, Jakarta – Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) bergerak cepat memfasilitasi pemulangan Supiat (21), seorang Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Supiat menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan terperangkap dalam sindikat penipuan daring (online scam) di Kamboja. Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, bahkan telah berkomunikasi langsung melalui panggilan video dengan Supiat untuk memastikan kondisi dan kelengkapan administrasinya. Dalam kesempatan itu, Mukhtarudin menegaskan komitmen negara untuk menanggung seluruh biaya pemulangan, mengingat kendala finansial yang dihadapi keluarga korban di daerah asal.
Kronologi kasus Supiat bermula ketika pemuda kelahiran Bintang Kurung ini tergiur tawaran pekerjaan non-prosedural sebagai pembersih kebun di Malaysia dengan iming-iming gaji tinggi. Namun, ia justru dialihkan secara sepihak oleh sindikat ke Kamboja. Di sana, Supiat disekap dan dipaksa bekerja sebagai operator penipuan daring. Selama menjalani pekerjaan di bawah tekanan tersebut, ia tidak pernah menerima upah karena selalu gagal memenuhi target perusahaan. Beruntung, setelah operasi razia besar-besaran oleh otoritas keamanan Kamboja, perusahaan ilegal tempatnya bekerja bubar, dan Supiat berhasil dievakuasi ke bawah perlindungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh.

Berdasarkan laporan teknis dan koordinasi intensif dengan KBRI Phnom Penh, rencana pemulangan Supiat telah dimatangkan. Ia dijadwalkan akan segera dipulangkan dari Kamboja menuju tanah air. Setibanya di Indonesia, Supiat akan menjalani proses penanganan lanjutan. Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Banten akan menyediakan fasilitas transit dan pemulihan psikologis awal, sebelum kemudian diserahkan kepada Kantor Pos Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) untuk proses pemulangan ke daerah asalnya.
Seluruh biaya penerbangan domestik menuju Provinsi Kalimantan Tengah juga akan ditanggung penuh oleh KP2MI. Untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pasca-trauma, Menteri Mukhtarudin menegaskan bahwa Supiat tidak akan dibiarkan melakukan perjalanan darat sendirian. Sesuai komitmen langsung Menteri kepada korban, jajaran dinas/kantor perwakilan wilayah KP2MI di Kalimantan Tengah telah diinstruksikan untuk menjemput Supiat di bandara lokal (Palangkaraya atau Banjarmasin) dan mengawalnya menggunakan kendaraan operasional dinas. Pengawalan ini akan berlanjut hingga Supiat tiba dengan selamat di depan pintu rumah keluarganya di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
"Nanti sampai daerah, ada orang kantor kita lagi yang akan mengantar sampai ke Buntok, sampai ke rumah," ujar Menteri Mukhtarudin dalam keterangan tertulis yang diterima bangkaterkini.id, Jumat (26/6/2026). Di akhir perbincangan, Mukhtarudin juga mengimbau Supiat untuk tetap tenang, menjaga kesehatan, dan menjadikan pengalaman pahit ini sebagai pelajaran berharga agar lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja non-prosedural di masa depan. Langkah cepat KP2MI ini diharapkan menjadi preseden positif, menegaskan bahwa negara selalu hadir melindungi hak-hak seluruh warga negaranya, di mana pun mereka berada.
Mukhtarudin juga menyampaikan pesan penting kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. "Kepada seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, agar senantiasa waspada dan melakukan verifikasi ketat melalui jalur resmi KP2MI terhadap setiap tawaran lowongan kerja ke luar negeri, guna menghindari modus penipuan serupa di masa mendatang," pungkasnya.
Dari tempat penampungan di Phnom Penh, Supiat menyampaikan apresiasi mendalam melalui rekaman video singkat. Ia merasa terharu atas respons cepat pemerintah pusat. Sambil memegang dokumen perjalanannya, pemuda asal Barito Selatan ini secara khusus mengucapkan terima kasih kepada jajaran KBRI di Kamboja dan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin yang telah turun tangan langsung mengatasi masalahnya. Supiat menuturkan, kepedulian nyata dari KP2MI dan kedutaan sangat berarti baginya dan keluarga di kampung halaman, yang sempat dilanda kecemasan mendalam akibat keterbatasan biaya pemulangan.
"Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada KBRI Phnom Penh dan Bapak Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia yang telah membantu, mendampingi, dan memfasilitasi seluruh proses kepulangan saya ke Tanah Air," tutup Supiat.

































